blog berisi artikel pendidikan kesehatan agama komputer otomotif seni sains

Contoh Makalah CTL Mata Pelajaran Matematika

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang aplikasinya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan matematika selalu dibutuhkan, tidak hanya dibidang matematika saja, tetapi juga mempengaruhi cabang ilmu lainnya. Selain itu, banyak fenomena yang selalu kita jumpai dan itu menerapkan prinsip-prinsip matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika dapat membentuk seseorang mempunyai daya nalar yang tinggi dalam pemecahan masalah dan mampu menjabarkannya secara logis dan sistematis. Cronbach dalam Riyanto, (2009 : 5) mengemukakan bahwa : “Belajar merupakan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.”
Agar perubahan perilaku itu memberikan hasil sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika maka dituntut keaktifan siswa dalam belajar. Siswa harus menyenangi matematika karena matematika memberikan mereka tantangan dalam proses pengerjaannya. Seharusnya siswa penuh semangat, kreatif, gigih, dan antusias dalam belajar matematika
Kenyataan yang ditemui penulis di lapangan belum menunjukkan pembelajaran matematika di sekolah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini terlihat dari berbagai aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan siswa dalam proses belajar-mengajar. Bagi siswa matematika hanyalah pelajaran yang terdiri dari sekelumit angka-angka, serta tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka mempelajari dan memecahkan persoalan matematika tersebut. Siswa juga kurang memahami konsep pelajaran sehingga saat guru menanyakan mengenai materi yang telah dipelajari sebelumnya, siswa banyak yang sudah lupa. Hal ini disebabkan siswa tidak memahami konsep dengan baik
Sebenarnya permasalahan yang dihadapi siswa tersebut adalah mereka belum bisa menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan itu akan digunakan. Hal ini dikarenakan cara mereka memperolah informasi dan motivasi diri belum tersentuh oleh metode yang betul-betul bisa membantu mereka. Seorang guru harus mampu mencobakan berbagai inovasi dalam pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk merangkul siswa terlibat secara aktif dalam belajar dan membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran matematika.
Penerapan  model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran matematika akan mampu menarik perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif dalam belajar. CTL mengapresiasikan mata pelajaran dengan realita-realita  yang telah diketahui siswa dalam kehidupan sehari-hari. CTL akan menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan yang bermakna sehingga siswa merasa akrab dengan matematika dan menimbulkan minat serta motivasi dalam penguasaan materi. Hal ini sesuai dengan pengertian pembelajaran CTL menurut Yatim Riyanto, (2009 : 161 ) bahwa: “pendekatan  Contekstual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.”
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa
Berdasarkan uraian diatas, maka Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu solusi untuk menjadikan mata pelajaran matematika lebih menarik.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan persoalan yang di temui dilapanagan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan berikut: “Bagaimana Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran matematika?”
C.     Tujuan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran matematika
D.     Manfaat
1.      Sebagai pengalaman dan sebagai bekal dalam mengajar matematika bagi penulis
2.      Sebagai variasi dan pengalaman belajar baru bagi siswa dalam pembelajaran
BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Metode Pembelajaran
Istilah pembelajaran sama dengan proses belajar mengajar. Dalam konteks pembelajran terdapat dua komponen penting, yaitu guru dan peserta didik yang saling berinteraksi. Dengan demikian, pembelajran didifinisikan sebagai pegorgaisasian atau penciptaan atau pengaturan suatu kondisi lingkungan yang sebaik-baiknya yang memungkinkan terjadinya belajar pada peserta didik.
Model pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukisakan prosedur yang sistematis dalam mengorgannisaikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas mengajar ( Syaiful Sagala, 2005)
Sedangkan menurut Joyce dan Well (2000:13) menjelaskan secara luas bahwwa model pembelajaran merupakan deskripsi  dari lingkungan belajara yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku pelajaran, program multimedia ddan bantuan belajar melalaui program komputer. Masih menurut Joyce dan Weil hakekat mengajaar adalah membantu pelajar (peserta didik) memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai-nilai, cara berfikir, dan belajar bagaimana belajar.

Merujuk pada pendapat di atas, penulis memaknai model pembelajaran dalam makalah ini sebagai suatu rencana yang memperlihatakna pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan peserta didik di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada peserta didik. Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau tahapan perbuatan/kegiatan guru peserta didik yang dikenla dengan istilah sintaks. Secara implisist di balik tahapan pembelajaran terrsebut terdapat karakteristik lainnya dari sebuah model dan rasional yang membedakan antara model pembelajaran yang satu dengan  model pembelajaran yang lainnya.
Karakteristik Model Pembelajaran
Menurut Rangke L tobing, dkk (1990: 5 ) mendefinisikan  lima karakteristik suatu medel pembelajaran yang baik, yang meliputi berikut ini.
1.      Prosedur ilmiah
Suatu model pembelajaran harus memeiliki satu prosedur yang sisitematis untuk mengubah tingkah laku peserta didik   atau memiliki sintaks yang  merupakan urutan langkah-langkah pemebelajaran  yang dilakukan guru dan peserta didik
2.      Spesifikasi hasil belajar yang direncanakan
Suatu model pembelajaran menyebbutkan hasil-hasil belajar secara rinci mengenai penampilan peserta didik.
3.      Spesifikasi ruang lingkup belajar
Suatu model pembelajran menyebutkan secara tegas kondisi lingkungan dimana respon peserta didik diobservasi
4.      Kriteria penampilamn
Suatu model pembelajaran merujuk pada kriteria penerimaan penampilan yang diharapkan dari peserta didik. Model pembelajaran merencanakan tingkah laku yang diharapkan dari peserta didik yang dapat didemonstrasikan setelah langkah-langkah mngajar tertentu.
5.      Cara –cara pelaksanaannya
Semua model pembelajaran menyebutkan mekanisme yang menunjukan reaksi peserta didik dan interaksinya dengan lingkungan.
 Bruce dan weill mengidentifikasikan karakteristik model pembelajaran ke dalam aspek-aspek berikut.
1.      Sintaks
Suatu model pembelajaran memiliki sintask atau urutan atau tahapan-thapan kegiatan belajra yang diistilahkan dengan fase yang menggambarkan bagaimana model tersebut bekerja dalam prakteknya, misalnya bagaiamana memulai pelajaran, bagaimana memfasilitasi peserta didik dalam menggunakan sumber belajar.
2.      Sisitem sosial
Sistem sosial menggambarkan bentuk kerja sama antara guru-peserrta didk  dalam pembelajaran atau peran-peran guru dan peserta didik dan hubungannya satu sama lain serta jenis-jenis aturan yang harus diterapkan.
3.      Prinsip reaksi
Prinsip reaksi menunjukan bahwa kepada guru bagaimana cara menghargai atau menilai peserta didik dan bagaimana menanggapi apa yang dilakukan oleh peserta didik.
4.      Sistem pendukung
Sistem pendukung menggambarkan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk mendukung keterlaksanaan moddel pembelajaran, termasuk sarana dan prasarana, misalnya alat dan bahan, kesiapan guru dan juga kesiapan peserta didik.
5.      Dampak pembelajaran langsung dan iringan
Dampak pembelajaran langsung merupakan hasil belajra yang di capai dengan cara mengarahkan para peserta didik pada tujuan yang diharapkan sedangkan dampak iringan adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses pembelajran.  Sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh peserta didik.

B.     Pengertian Model Pembelajaran CTL
Pembelajaran kontekstual adalah terjemahan dari istilah Contextual Teaching Learning (CTL). Katacontextual berasal dari kata contex yang berarti “hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Dengan demikian contextual diartikan ”yang berhubungan dengan suasana (konteks). SehinggaContextual Teaching Learning (CTL) dapat diartikan sebagi suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
Pengajaran  kontekstual sendiri pertama kali dikembangkan di  Amerika Serikat yang diawali dengan dibentuknya Washington State Consortum for Contextualoleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Antara tahun 1997 sampai tahun 2001 sudah diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektifitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, dan 18 sekolah dengan mengikutsertakan 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sudah diberikan pembekalan sebelumnya.
Penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi sehingga hasilnya direkomendasikan  untuk  segera disebarluaskan pelaksanaannya. Untuk tingkat sekolah, pelaksanaan dari  program ini memperlihatkan suatu hasil yang signifikan, yakni meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan  partisipasi aktif siswa secara keseluruhan.
Pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional, Departemen Pendidikan Nasional(2002:5) mengemukakan perbedaan antara pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dengan pembelajaran konvensional sebagai berikut:
CTL
Konvensional
Pemilihan informasi kebutuhan individu siswa;
Pemilihan informasi ditentukan oleh guru;
Cenderung mengintegrasikan  beberapa bidang (disiplin);
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu;
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa;
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan;
Menerapkan penilaian autentik melalui melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah;
Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian/ulang

Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen  utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).
1.      Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap  individu  dapat  membuat  struktur  kognitif  atau mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000). Fungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk ide baru.
Menurut Piaget pendekatan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :
1) Mengandung pengalaman nyata (Experience);
2) Adanya interaksi sosial (Social interaction);
3) Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense making);
4) Lebih memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge).
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Berdasarkan pada pernyataan tersebut, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan (Depdiknas, 2003:6).
Sejalan dengan pemikiran Piaget mengenai kontruksi pengetahuan dalam otak. Manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Setiap kotak itu akan diisi oleh pengalaman yang dimaknai berbeda-beda oleh setiap individu. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak yang  sudah berisi pengalaman lama sehingga dapat dikembangkan. Struktur pengetahuan dalam otak manusia dikembangkan melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
2.      Bertanya (Questioning)
Bertanya  merupakan  strategi  utama  dalam  pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry.  Dalam  sebuah  pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1)Menggali informasi, baik administratif maupun akademis;
2)Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa;
3)Membangkitkan respon kepada siswa;
4)Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5)Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6)Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7)Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
3.      Menemukan (Inquiry)
Menemukan  merupakan  bagian  inti  dari  pembelajaran  berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003). Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :
1)Merumuskan masalah ;
2)Mengajukan hipotesis;
3)Mengumpulkan data;
4)Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
5)Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan  siswa  memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.
4.      Masyarakat belajar (Learning Community)
Konsep  Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa, antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi pengalaman (Depdiknas, 2003).
5.      Pemodelan (Modeling)
Pemodelan dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam arti  guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru siswa digolongkan menjadi :
1.  Kehidupan yang nyata (real life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;
2.  Simbolik (symbolic), model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;
3.  Representasi (representation), model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya televisi dan radio.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.  Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang realisasinya dapat berupa :
1.      Pernyataan langsung terhadap apa yang diterima hari ini
2.      Catatan atau jurnal dibuku siswa
3.      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
4.      Diskusi
5.      Hasil karya
7.  Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment menurut Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang  diukur keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya tulis. Menurut Elaine B. Johnson (2011 : 289) “penilaian autentik meningkatakan pembeljaran dalam banyak hal dan memberi keuntungan bagi siswa untuk:
1. Mengungkapkan secara total seberapa baik pemehaman akademik mereka
2. Mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi
3. Menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman
4. Mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi
5. Menerima tanggung jawab dan membuat pilihan
6. Berhubungan dan bekerja sama dalammengerjakan tugas

C.     Pembahasan
Guru harus bisa memberikan pelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswanya sehingga mata pelajaran matematika  tidak menakutkan seperti momok yang ada selama ini bagi siswa. Belajar matematika tidak hanya berhitung dan memecahkan soal-soal matematika, namun memberikan pemahaman kepada siswa bagaimana memecahkan persoalan yang ada di sekitar mereka.
Pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran CTL berlangsung dengan pengaitan materi pelajaran dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari  sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu konteks ke konteks lainnya.
CTL akan membuat materi pelajaran sampai ke siswa dengan melibatkan siswa sepenuhnya. Siswa merekonstruksi pengetahuan sehingga belajar lebih bermakna. Komponen-komponen dalam CTL: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya merupakan komponen yang komplit untuk menuntun siswa terlibat aktif dalam belajar dengan cara yang tidak kaku. Jika siswa memenuhi  tujuh komponen CTL itu maka siswa akan mampu bekerja-sama dengan baik dalam belajar, berfikir kritis tentang masalah matematika yang ada, menemukan solusi dari permasalahn itu, melatih kecakapan dan keaktifan siswa untuk bertanya, dan sebagainya.
Dengan demikian, maka model pembelajaran berbasis pembelajaran CTL akan mampu menuntun dan membuat siswa mengerti akan materi dengan cara mereka sendiri dibanding dengan penyampaian materi dengan metode konvensional yang menuntut siswa untuk lebih banyak menerima. Hasil konstruksi siswa terhadap masalah matematika yang ada, tentu saja akan jauh lebih lama diingat, karena siswa dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran dan bukan menghafal konsep, materi, ataupun rumus-rumus matematika
Suasana pembelajaran yang akrab seperti ini akan membuat siswa merasa nyaman dan pembelajaran bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal, karena adanya peningkatan aktivitas dengan model CTL. Dengan meningkatnya aktivitas positif siswa dalam belajar, tentunya hal itu akan bisa membuat hasil belajar siswa turut menjadi lebih baik
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan pembelajaran cooperative tipe contextual teaching and learning (CTL) akan dapat memberikan konstribusi dan sebagai salah satu strategi yang tepat dalam penyampaian materi yang melibatkan siswa secara aktif tanpa kesan bahwa matematika itu sulit dan kaku.
Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama yaitu: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Ketujuh komponen tersebut membangun kerangka berfikir, dimulai dari fakta, data dan konsep. Penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika akan membantu siswa dan guru mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal jika guru
memiliki persyaratan berikut :
1. menguasai dan memiliki kemampuan mengembangkan pendekatan
    kontekstual dengan baik.
2. mempersiapkan pembelajaran dengan sungguh-sungguh.
3. menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan
    menyenangkan.
4. selalu menghargai kemampuan siswa.
5. mampu menempatkan diri sesuai peran dan fungsinya.

B.     Saran
Berdasarkan pemaparan diatas kami merekomendasikan kepada pengajar maupun calon pengajar matematika untuk menggunakan pembelajaran cooperative tipe contextual teaching and learning (CTL). Penerapan model pembelajaran CTL ini akan membuat siswa merasa lebih akrab dan tidak asing dengan matematika. Dengan demikian maka diharapkan hasil belajar matematika siswa meningkat sesuai dengan harapan kita.
Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat dijadikan alternative untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di setiap jenjang pendidikan. Demikian contoh Makalah CTL mata pelajaran Matematika yang basic artikel sajikan 
Tag : PENELITIAN
2 Komentar untuk "Contoh Makalah CTL Mata Pelajaran Matematika"

Herbal Zon | Mekar Hias | Area Kicau | Za ponsel | Info Dinas
Back To Top